Hargai yang sudah 'hadir'ARTIKEL

Oct 28, 2008 08:57 oleh Admin

 

Di rapat dosen yang berlangsung, Pak Bambang Hermanto -- saat itu Sekretaris Program MM -- meminta para dosen agar memulai pelajarannya tepat waktu. Rupanya masih ada juga dosen yang memulai perkuliahannya molor.
 
Etos belajar-mengajar di MM-UI memang tinggi. Dosen yang evaluasi akhir pelajarannya mendapat ponten rendah dari mahasiswa, bisa-bisa catur wulan depan tidak mendapat penugasan lagi. Sebaliknya, kalau mahasiswa ada yang ketahuan nyontek, ngebet, dan segala bentuk cheating, niscaya namanya akan terpampang di papan pengumuman dan seluruh mata kuliah yang diambil pada cawu itu dinyatakan diskualifikasi. Itu dari sanksi formal. Belum dari sanksi informal. Waktu saya masih jadi mahasiswa di MM-UI, ada teman perantauan yang ketahuan bawa contekan waktu ujian. Sejak itu cawu berikutnya sampai lulus, dia dijauhi teman-teman. Kasihan memang, tapi salahnya sendiri.
 
Salah seorang dosen kemudian berargumen, "Bagaimana saya bisa memulai kuliah, kalau begitu saya datang tepat waktu mahasiswanya baru sedikit ?".
 
Saya yang tadinya ingin diam saja, tidak tahan juga untuk angkat bicara, "Saya hanya ingin sharing pengalaman yang saya lakukan, jadi Insya Allah ini bukan teori. Saya kalau mulai kuliah selalu tepat waktu, dan langsung mengabsen mahasiswa, biarpun hanya ada sedikit mahasiswa. Pengalaman saya, biasanya hanya satu-dua kali banyak yang terlambat, setelah itu minggu-minggu berikutnya mahasiswa sudah banyak sejak jam masuk kujliah. Pengalaman saya, tepat waktu atau tidaknya lebih ditentukan oleh dosennya".
 
Bukan cuma di MM-UI, dalam memberi training pun, kalau waktunya coffee break telah usai, saat masih banyak yang merokok di luar kelas, saya ambil mic dan berbicara kepada peserta training yang telah ada di tempat duduknya masing-masing, "Nah, bapak-bapak dan ibu-ibu ... untuk menghargai bapak dan ibu yang sudah tepat waktu masuk kelas lagi, maka saya akan mulai lanjutkan pelatihan kita. Jangan sampai Bapak dan Ibu yang sudah tepat waktu ini dikorbankan oleh mereka yang tidak tepat waktu ..."
 
Biasanya, pada rehat berikutnya, saatnya waktu masuk kelas tiba, peserta jauh lebih banyak yang sudah ada di dalam ruangan ...
 
Membangun kebiasaan itu awalnya memang tidak mudah. Ibarat mendorong mobil mogok, diperlukan energi besar di awal-awal. Tapi setelah mobil mulai bergerak sedikit, dan tetap konsisen mendorong, akhirnya mobil itu mulai berjalan, dan kalau sudah ketemu momentumnya, dengan satu tanganpun mobil itu bergerak.
 
Bagaimana dengan memulai rapat ?. Untuk melatih anggota organisasi memulai rapat tepat waktu, biasanya saya memulai rapat tepat waktu. Lalu ada absensi peserta rapat yang ada kolom 'jam kehadiran' yang harus diisi oleh peserta rapat. Satu-satunya anggota organisasi saya yang selalu datang sebelum jam rapat dimulai, adalah Pak Mustafa Dangkua. Beliau adalah mantan perwira polisi yang berpuluh-tahun berada di dunia pendidikan. Dalam soal disiplin, beliau adalah uswatun hasanah -- teladan yang baik.
 
Nah, kalau ada peserta rapat datang terlambat menanyakan atau mengulangi topik yang telah disinggung saat dia belum hadir, itulah saat-saat 'menyenangkan' buat saya untuk 'ngerjain' dia....***